Dunia E-Commerce Indonesia

Dunia E-Commerce Indonesia

Indonesia lagi diserbu e-commerce, bisa dibilang  dunia e-commerce Indonesia. Hanya saja ke depannya diprediksi bakal banyak yang berguguran dan cuma meninggalkan yang terkuat. Hal tersebut dituturkan COO baru Bukalapak Wilix Halim. Menurutnya, dunia e-commerce Indonesia bakal mengikuti pola yang ada di Amerika Serikat dan Australia. bakal ada yang bertahan dan terbuang di e-commerce Indonesia

Awalnya cukup banyak yang bermunculan. Namun seiring waktu terjadi seleksi alam. Menyisakan satu atau dua e-commerce saja.

“Di Amerika Serikat saat ini hanya ada Amazon. Saat ini kita berada di tahap di mana kita figure out siapa yang bakal menang dan mendominasi,” ujarnya.

Raja Asia Tenggara

Pemerintah mempunyai keinginan Indonesia dapat menjadi pemain ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020 yang akan datang. Dapatkah hal tersebut ditercapai?

Menjawab pertanyaan tersebut, Wilix berpendapat keinginan tersebut dapat terwujud. Sebab Indonesia punya modal untuk mencapainya.

Pertama dari segi jumlah penduduk. Saat ini Indonesia mempunyai lebih dari 250 juta penduduk. Kemudian, infrastruktur pendukung juga semakin bagus.

Pemerintah sendiri dinilainya tidak sekadar punya keinginan. Mereka juga melakukan banyak hal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital.

Salah satunya memberi perhatian lebih pada perkembangan dunia startup dan e-commerce. Hal ini, kata Wilix, berbeda dengan pemerintah Australia.

“Dukungannya minimal banget. biasanya startup harus bisa berjuang sendiri. Pemerintah Australia lebih fokus ke area lain. Beda banget dengan pemerintahan Indonesia yang sangat fokus dengan kreatif ekonomi,” ujar mantan bos Freelancer.com yang berkantor di Australia itu.

Tantangan

Meski ekonomi digital Indonesia memiliki potensi yang begitu besar, tantangan yang akan dihadapi juga tidak lantas kecil. Jika tidak dibenahi, para pelaku bakal mudah tersingkir dari sengit persaingan.

Salah satu yang harus diperhatikan adalah cara memakai uang. biasanya startup latah membakar uang demi membesarkan perusahaan. Padahal banyak teknik untuk menjaring banyak pengguna tanpa harus menghabiskan uang dengan percuma.

Mengenai yang dapat dilakukan dengan growth hacking. Cara ini mengedepankan data driven culture untuk mendorong pertumbuhan. Semua eksperimen dan kampanye marketing yang dilakukan, harus dilacak dan dianalisa untuk melihat apakah bekerja dengan baik atau tidak.

Dijelaskan Wilix ada lima kunci berbentuk matriks baku yang bakal dipakai, yaitu Acquisition, Activation, Retention, Referral dan Revenue.

1. Acquisition : Bagaimana memikat pengguna.
2. Activation : Membuat pengguna melakukan aktivasi di situs yang dikembangkan.
3. Retention : Bagaimana agar pengguna kembali ke situs.
4. Referral : Membuat pengguna mengajak orang lain sebagai pengguna baru.
5. Revenue : Memikirkan agar layanan atau produk mendatangkan pendapatan

“Dari data kita dapat melakukan kegiatan selanjutnya. Misalnya membuat website semakin simple, proses dari beli hingga pembayaran makin dipersingkat,” tutur pria kelahiran Medan ini.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Call Now Button